Segitiga Fotografi

Fotografi adalah kegiatan merekam gambar yang didapat dari memfokuskan cahaya melalui lensa. Untuk dapat membuat sebuah foto dengan pencahayaan yang pas, kita memakai segitiga fotografi. Segitiga fotografi adalah teknik mengontrol banyaknya cahaya yang masuk ke dalam kamera, dan mengontrol tingkat sensitifitas dari alat rekam cahaya kita.

Alat yang dipakai untuk mengontrol dan merekam cahaya tersebut dinamakan kamera. Kata kamera itu sendiri berasal dari kata Camera Obscura yang berarti kamar yang gelap.

Pada kamera terdapat empat elemen yang saling mempengaruhi dan tidak dapat dilepaskan satu sama lain. Keempat elemen tersebut adalah:

Keempat elemen ini kalau digabungkan dalam sebuah diagram, maka akan berbentuk seperti segitiga sama sisi. Oleh karenanya sering disebut sebagai segitiga fotografi.

Segitiga Fotografi
Segitiga Fotografi

ISO

ISO adalah sebuah angka yang menentukan tingkat kesensitifan alat rekam cahaya.

Semakin tinggi angka ISO, maka semakin sensitif alat rekam tersebut. Sehingga membutuhkan sedikit cahaya untuk meng-expose alat rekam cahaya. Atau lebih gampangnya, membutuhkan sedikit cahaya untuk bisa memotret.

Kebalikannya, semakin rendah angka ISO, maka semakin tidak sensitif alat rekam tersebut. Sehingga membutuhkan banyak cahaya untuk meng-expose alat rekam cahaya. Atau bahasa gampangnya, membutuhkan banyak cahaya untuk bisa memotret.

Angka-angka ISO dalam fotografi yang sesuai dengan exposure value (atau stop) adalah sebagai berikut

100 – 200 – 400 – 800 – 1600 – 3200 – 6400 – 12800 – 25600 – 51200

Speed

Shutter Speed atau kecepatan shutter adalah angka yang menunjukkan lamanya shutter terbuka dan lalu tertutup lagi. Pada saat shutter terbuka, cahaya akan diteruskan ke alat rekam untuk dapat direkam menjadi sebuah gambar / foto.

Tentunya, semakin lama shutter terbuka, maka semakin banyak cahaya yang diteruskan. Semakin sebentar shutter terbuka, maka semakin sedikit cahaya yang diteruskan.

Angka speed mempunyai satuan detik dan seper-detik (1/x detik). Angka speed dalam fotografi yang sesuai dengan exposure value (atau stop) adalah sebagai berikut

30″ – 15″ – 8″ – 4″ – 2″ – 1″ – 1/2 – 1/4 – 1/8 – 1/15 – 1/30 – 1/60 – 1/125 – 1/250 – 1/500 – 1/1000 – 1/2000 – 1/4000

Tanda petik pada angka speed menunjukkan satuan detik. Sehingga angka 30″ berarti shutter akan terbuka selama 30 detik. Sebagai contoh lain, 2″ berarti shutter akan terbuka selama 2 detik.

Kalau di angka speed tidak ada tanda petik, artinya shutter akan terbuka selama 1/x detik. Sebagai contoh, angka 4 (tanpa tanda petik) berarti shutter akan terbuka selama 1/4 detik. Sebagai contoh lain, angka 8 berarti 1/8 detik.

Diafragma

Diafragma atau bukaan adalah angka yang menunjukkan besarnya bukaan pada lensa. Di dalam lensa, terdapat bilah-bilah yang dapat terbuka dan tertutup, dengan besaran luas bukaan yang sudah diperhitungkan.

Semakin besar angka diafragma, maka semakin kecil luas bukaan di lensa. Maka cahaya yang masuk ke dalam kamera semakin sedikit.

Semakin kecil angka diafragma, maka semakin besar luas bukaan di lensa. Maka cahaya yang masuk ke dalam kamera semakin banyak.

Angka diafragma dalam fotografi yang sesuai dengan exposure value (atau stop) adalah sebagai berikut

1.8 – 2 – 3.5 – 4 – 5.6 – 8 – 11 – 16 – 32 – 64

Angka-angka di atas didapat dari perhitungan fisika lensa. Jadi kita sebagai pengguna harus terima apa adanya angka-angka tersebut.

Light Meter

Light meter adalah sebuah alat yang mengukur banyaknya cahaya yang masuk sudah cukup atau belum untuk menghasilkan sebuah foto. Tentunya, alat ini memperhitungkan kombinasi dari ketiga elemen yang lain. Jadi, dari kombinasi ISOSpeed-Diafragma yang terpasang, light meter akan mengukur apakah cahaya yang masuk sudah cukup atau belum.

Jadi dalam proses membuat foto (proses motret), seorang fotografer perlu mengukur intensitas cahaya yang ada pada scene yang akan difoto. Dengan kombinasi ISOSpeed-Diafragma yang dipilih, fotografer tinggal pencet setengah tombol shutter untuk mengaktifkan light meter. Nanti kamera akan mengukur scene tersebut, dan memberi informasi apakah dari kombinas ISOSpeed-Diafragma yang dipilih akan menjadi foto yang :

  • kelebihan cahaya (atau)
  • pencahayaan normal (atau)
  • kekurangan cahaya

Bila kelebihan cahaya, si fotografer punya pilihan untuk merendahkan angka ISO, mempercepat Speed, atau memperbesar angka diafragma.

Bila kekurangan cahaya, si fotografer punya pilihan untuk meninggikan angka ISO, memperlambat Speed, atau memperkecil angka diafragma.

Kapan kita memilih merubah ISO, Speed atau diafragma? Tergantung pada foto apa yang akan kita foto.

Kalau kita ingin memotret objek-objek yang bergerak, tentu kita harus memprioritaskan speed. Sebagai contoh, pada saat kita memotret orang yang sedang lompat, kita membutuhkan speed yang cepat. Maka, kita tentukan / prioritaskan dulu speed yang akan kita pakai. Lalu, baru kita mengukur diafragma berapa yang akan kita pakai dengan mengukur cahaya yang masuk menggunakan light meter. Speed cepat sudah kita tentukan. Diafragma dan ISO menyesuaikan dengan Speed yang kita prioritaskan.


MK Photography adalah tempat belajar fotografi yang berlokasi di Jakarta. Kami membuka Kelas Basic Photography WeekDays dan WeekEnd. Kami juga membuka kelas Intermediate WeekDays dan Weekend. Jangan ragu untuk menghubungi kami atau langsung chat via WhatsApp.

Share this now :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *