Menghitung Modal dan Harga Jual Jasa Fotografi

Ketika seorang fotografer hobi mulai memberanikan diri untuk mulai mencari uang lewat hobinya, ia harus bisa menghitung harga jual jasa fotografi. Tentunya, sebelum mengetahui harga jual jasa fotografi, seorang fotografer perlu bisa menghitung modal fotografi yang ia keluarkan untuk bisa mengerjakan proyek fotografi. Banyak fotografer hobi yang melakukan kesalahan perhitungan ini, sehingga bisnis fotografinya tidak berkembang, bahkan bangkrut. Hal ini terutama karena fotografer (dan juga klien-kliennya) tidak memperhitungkan biaya-biaya tersembunyi yang ada di bisnis fotografi digital.

Komponen biaya pada jasa fotografi sama seperti bisnis jasa lainnya. Komponen biaya pada bisnis jasa fotografi adalah sebagai berikut :

  • Biaya produksi
  • Biaya marketing
  • Biaya alat produksi
  • Biaya skill / keahlian

Biaya Produksi

Menghitung biaya produksi selalu menjadi langkah awal dalam perhitungan harga modal. Dalam setiap proyek fotografi, dipastikan ada 3 (tiga) tahapan utama yang mempunyai biayanya masing-masing. Ketiga tahapan tersebut adalah :

  • Sebelum produksi (pre-production)
  • Ketika produksi (production)
  • Setelah produksi (post-production)

Ketiga tahapan ini memiliki elemen biaya langsung maupun tidak langsung. Biaya langsung adalah biaya yang harus dikeluarkan atau dibayarkan agar produksi dapat terlaksana. Apabila biaya ini tidak dibayarkan, maka produksi terancam gagal terlaksana. Terdapat juga biaya tidak langsung, yang mana apabila biaya ini tidak dikeluarkan tidak akan memberikan ancaman serius atas kelangsungan produksi.

Oleh karenanya, biaya langsung dalam biaya produksi biasanya lebih mudah dihitung karena biasanya biaya yang memang terlihat langsung dan apabila tidak dibayarkan, proyek fotografinya tidak akan bisa terjadi. Dalam tulisan ini, saya tidak akan membahas tentang biaya langsung ini. Hal ini dikarenakan biaya langsung amat mudah untuk diidentifikasi.

Sayangnya, kebanyakan fotografer pemula hanya memperhitungkan biaya produksi ini saja ketika menghitung harga modal fotografi. Padahal, masih banyak biaya-biaya lain yang juga perlu ditanggung oleh seorang fotografer. Dalam biaya produksi saja, ada biaya-biaya tidak langsung yang sering luput menjadi bahan perhitungan fotografer muda. Biaya-biaya tidak langsung yang juga perlu dimasukkan dalam biaya produksi tersebut adalah :

  • Biaya survey (transportasi, bensin, parkir, makan)
  • Biaya marketing (makan, minum untuk rapat dengan klien, pulsa komunikasi dengan klien, parkir dll)
  • Biaya komunikasi dengan pihak-pihak produksi (model, stylist, make up, dll)
  • Biaya transportasi untuk bertemu klien, untuk produksi, mencetak, membuat pigura dan mengantar hasil foto kepada klien

Biaya Marketing

Biaya marketing jarang sekali dimasukkan dalam harga jual. Biasanya, hanya diskon harga jual yang dimasukkan secara langsung pada biaya marketing. Padahal marketing sebuah usaha tidak hanya terbatas pada diskon harga jual. Biaya ini termasuk biaya yang penting dikeluarkan demi kelangsungan usaha seseorang.

Dalam usaha fotografi, biaya marketing bisa berupa :

  • Biaya pembuatan media marketing, seperti website, brosur, portfolio tercetak
  • Biaya membuat iklan-iklan di medsos, atau media lainnya
  • Biaya ikut pameran, seperti biaya pendaftarannya, biaya produksi stand, biaya properti-properti
  • Komisi yang diberikan kepada tenaga pemasaran
  • Diskon-diskon
  • Dan lain-lain

Seperti yang sudah saya katakan, biasanya fotografer hanya memasukkan diskon yang diberikan kepada klien sebagai biaya marketing. Padahal, seperti bisa dilihat di atas, biaya yang termasuk dalam biaya marketing banyak sekali. Dan biaya-biaya ini perlu juga diperhitungkan dalam penentuan harga jual.

Biaya Alat Produksi

Biaya alat produksi (seperti kamera, lensa, flash dan komputer) sering luput dari perhitungan harga modal. Fotografer pemula sering mengesampingkan biaya ini karena biaya ini tidak dirasakan secara langsung. Biaya ini sering sekali tidak diperhitungkan ketika menghitung harga modal fotografi untuk menentukan harga jualnya. Untungnya, ada juga fotografer yang memasukkan komponen biaya alat produksi dengan asumsi alatnya menyewa. Sehingga dalam perhitungan modal produksi, terdapat komponen biaya sewa alat yang dimasukkan dalam perhitungan modal.

Dengan penggunaan fotografi digital, seorang fotografer tidak perlu lagi mengeluarkan biaya untuk film dan proses cuci cetak. Tidak adanya biaya film dan proses cuci cetak, mengakibatkan fotografer pemula menganggap tidak ada biaya yang dikeluarkan untuk alat produksi mereka. Banyak fotografer yang mengira dengan tidak adanya biaya yang perlu dikerluarkan ketika memakai kamera digital, maka tidak ada biaya sama sekali. Inilah kesalahan mendasar ketika menghitung modal fotografi.

Semua alat produksi pasti memiliki umur produktif. Pada saat sebuah alat produksi mencapai umur produktifnya, dalam perhitungan usaha biasanya alat tersebut dinilai sebagai nihil atau 0 (nol). Hal ini dikarenakan, pada saat selesai masa produktifnya, perusahaan harus mengganti alat tersebut dengan yang baru yang diasumsikan mempunyai harga yang sama.

Jadi katakanlah, sebuah kamera diasumsikan memiliki umur produktif selama 5 tahun dengan nilai barunya sebesar 6 juta rupiah. Maka dalam perhitungan, kamera tersebut akan kehilangan “nilai” sebesar 1.2 juta per tahun (6jt dibagi 5 tahun), yang mana sama dengan sebesar 100rb per bulan.

Penurunan nilai
Rp. 6.000.000 / 5 tahun = 1.200.000 / tahun
Rp. 1.200.000 / 12 bulan = 100.000 / bulan

Jadi nilai kameranya akan berkurang sebesar 100rb setiap bulan. “Biaya” ini perlu dikeluarkan setiap bulan, terlepas apakah kameranya dipakai pada bulan itu. Dan biaya ini yang perlu diperhitungkan oleh setiap pengusaha fotografi ketika menghitung modal fotografi.

Dalam ilmu akuntansi, perhitungan ini disebut sebagai perhitungan nilai depresiasi. Saya akan membahas lebih dalam soal biaya depresiasi ini di tulisan lain.

Biaya Keahlian dan Pengetahuan

Fotografer yang memang sekolah dan kuliah di jurusan fotografi, tentu memiliki ilmu yang berbeda dengan fotografer yang otodidak atau belajar sendiri. Fotografer dengan portfolio yang baik tentu memiliki pengalaman dan jam terbang yang berbeda dengan fotografer yang baru mulai menekuni bisnis fotografi. Dari pengalaman seorang fotografer, sebuah tugas fotografi yang sulit, akan terlihat mudah.

Untuk mendapatkan pengetahuan dan pengalaman ini, seorang fotografer perlu mengeluarkan biaya. Kalau pakai istilah bapak saya, biaya sekolah. Biaya sekolah ini perlu dikeluarkan dan juga harus diperhitungkan. Biaya ini tentu tidak dapat dimasukan langsung pada biaya produksi yang dibebankan pada klien. Akan tetapi, biaya ini nyata dan perlu diperhitungkan.

Kesimpulan

Dari semua biaya-biaya di atas, keseluruhan harus diperhitungkan. Oleh karenanya, saya selalu sarankan kepada fotografer-fotografer muda untuk berhati-hati dalam melakukan perhitungan harga jual.

Semua yang saya bahas di atas, baru berupa biaya-biaya yang merupakan pembentuk dari harga modal. Harga jual itu sendiri harus menambahkan keuntungan atau harga jasa diatas semua biaya-biaya yang sudah saya bahas di atas.

Sebagai penutup, saya akan permudah konsep berpikirnya.

Setiap kita makan ayam goreng di KFC, tentu harga ayam yang kita bayarkan kepada KFC bukan hanya harga modal ayam potong dan tepung bumbunya saja. Di harga ayam itu, sudah termasuk harga investasi penggorengan, mesin kasir, interior dari restorannya, gaji karyawan, tagihan listrik, tagihan air dan tentunya harga sewa dari lokasi restorannya.

Kita sebagai pengusaha fotografi, harus ingat bahwa dalam harga jual jasa kita, sudah termasuk juga biaya bensin, parkir, pulsa, rokok, makan, minum, brosur, website, depresiasi alat dan banyak lagi biaya-biaya tidak langsung yang ada dalam usaha kita.

Terima kasih sudah mampir


MK Photography adalah tempat belajar fotografi yang berlokasi di Jakarta. Kami membuka Kelas Basic Photography WeekDays dan WeekEnd. Kami juga membuka kelas Intermediate WeekDays dan Weekend. Jangan ragu untuk menghubungi kami atau langsung chat via WhatsApp.

Share this now :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *